Banyuwangi Tanah Penuh Pesona, Budaya yang Tak Pernah Pudar
BanyuwangiOKnews
Di ujung timur Pulau Jawa, terhampar tanah yang tak hanya kaya alam, melainkan juga dihiasi kisah-kisah indah yang diwarisi leluhur — itulah Banyuwangi, sungguh luar biasa ragam budayanya.
Sejak masa silam,di abad ke-18, lahirlah Tari Gandrung, tarian ini diciptakan dan diperagakan masyarakat sebagai wujud rasa syukur yang tulus, di tengah kehidupan agraris yang mulai kembali tenang dan berkembang. Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1930-an, Gandrung berubah rupa, dari Gandrung Pria, kini menjelma menjadi Gandrung Wanita yang diprakarsai Gandrung Semi, lengkap dengan sepasang kipas dan kaus kaki putih yang menambah keanggunan penarinya.
Foto di atas adalah saksi bisu masa itu, sepotong kenangan yang mengabadikan keindahan gerak, busana, dan kebersamaan yang tak lekang waktu.
Tak kalah mempesona pula saat tari diperagakan dalam Lakon Rengganis, kisah yang diambil dari Serat Menak, menceritakan keperkasaan dan keindahan jiwa dalam wujud tarian serta gamelan yang mengalun merdu. Dewi Rengganis dan Umarmoyo sempat hidup kembali di panggung beberapa tahun silam, namun dengan perubahan jaman kesenian tersebut hampir langka untuk di peragakan, tapi dengan itu semua mengingatkan betapa kayanya warisan yang kita miliki.
Banyuwangi memang tak pernah habis bercerita, setiap gerak, setiap nada, adalah bukti bahwa budayanya abadi, melekat di hati, dan terus menyinari masa depan.
Semoga kekayaan budaya Tari Rengganis ini tetap kokoh berdiri, terjaga kemurniannya, dan menjadi kebanggaan yang senantiasa diuri-uri serta diwariskan kepada anak cucu kita kelak."
Editor :Titus Y